Seminar Nasional Pariwisata dalam Bingkai Psikologi

Seminar Nasional Pariwisata dalam Bingkai Psikologi

UTM Kupas Pariwisata dalam Bingkai Psikologi
KAMIS, 10 NOV 2016 00:14

UTM Kupas Pariwisata dalam Bingkai Psikologi

BERSEMANGAT: Pemateri dan pelaku wisata saat bersinergi di kampus UTM Bangkalan, Rabu (9/11). (BAHRUL ULUM/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Kekayaan alam dan budaya Madura bisa dibilang unik. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku wisata. Apalagi, ditopang mudahnya jalur menuju Madura dari wilayah Surabaya. Kunjungan wisata ke Madura memang mengalami lonjakan.

Akan tetapi, problem personal masyarakat Madura belum teratasi guna mendorong potensi wisata menjadi sektor ekonomi utama di Pulau Garam. Problem tersebut dikupas tuntas para pelaku wisata dengan kalangan akademisi Rabu (9/11).

Terobosan menarik dilakukan program studi (Prodi) Psikologi Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Mereka mengupasnya dengan menggelar seminar nasional (semnas) bertema Pariwisata dalam Bingkai Psikologi. Peserta seminar memaparkan beragam pemikiran untuk membangun sektor pariwisata, khususnya Madura. Tujuannya, memajukan potensi wisata di Madura.

Sejumlah peserta mengakui jika masyarakat belum bisa melepas pandangan negatif yang melekat pada warga Madura. Kekerasan dan hubungan interpersonal antarindividu di Madura yang sering konflik, menjadi catatan penghambat memajukan sektor wisata.

”Hasil penelitian memang menunjukkan adanya perbedaan kemampuan hubungan interpersonal pada individu etnis Madura,” ujar Setyaningsih, peneliti dari UTM. Sektor jaminan kenyamanan dan keamanan juga disorot sebagai salah satu sektor yang harus dibenahi.

Ketua Prodi Psikologi UTM Siti Nur Fitria, sempat menyentil kasus begal terhadap pengunjung Bukit Goa Pote. Menurut dia, kunjungan wisatawan ke Goa Pote di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, terus meningkat karena keunikan panorama alamnya. Namun, pengunjung merasa tidak aman.

”Adanya kriminalitas di tempat tujuan wisata, itu karena masyarakat kurang paham akan pentingnya industri wisata,” ungkapnya.

Nur Fitria juga menyentil sokongan dari pemerintah di Madura. Dia mencontohkan keberadaan wisata religi Syaichona Moh. Cholil yang menjadi objek wisata nomor empat terbesar di Jawa Timur.

Sayangnya, tidak ada paket alternatif objek wisata yang lain. Dengan demikian, selama ini pengunjung pesarean di Kecamatan Kota Bangkalan itu tidak bisa berlama-lama menikmati Madura.

”Coba lihat pengunjung wisata religi di Lamongan. Mereka masih bisa menikmati Gua Maharani, WBL, dan beragam paket wisata lainnya,” imbuhnya.

Netty Herawati, peserta semnas kemarin juga menegaskan, Madura yang merupakan daerah kepulauan kaya akan wisata alamnya. Sayang, kekayaan alam itu belum sepenuhnya tergarap serius antara pelaku wisata dengan pemerintah. Terbukti, jalur menuju lokasi wisata belum mendukung.

Masih banyak ditemukan lokasi wisata alam yang tidak terawat dan terabaikan. Kekayaan alam yang sudah menjelma menjadi objek wisata andalan masih bisa dihitung dengan jari. Terkini, wisata Gili Labak mulai menjadi destinasi andalan pelancong yang ke Jawa Timur.

”Solusinya, keterlibatan masyarakat secara langsung harus diupayakan. Wisata Madura ke depan harus berbasis masyarakat lokal. Jadikan masyarakat sebagai pelaku, jangan hanya dijadikan objek,” paparnya.

Ketua pelaksana semnas, Lailatul Muarofah Hanim, mengatakan, kegiatan kemarin memang bertujuan mengembangkan destinasi objek wisata di Madura. Sebab, banyak potensi objek wisata yang mempunyai nilai jual lebih dibanding kawasan lain di Indonesia. Menurut dia, semua pihak harus bersatu memikirkan pengembangan wisata di Madura.

”Kalau infrastrukturnya bagus, SDM wisata banyak, dan pengelolaan manajemen baik, kami yakin pengunjung akan ramai ke Madura. Kalau wisatawan banyak, akan berpengaruh besar untuk peningkatan perekonomian. Kita semua yakin, wisata Madura akan bisa berkembang pesat seperti Batu, Bali, dan destinasi wisata lainnya,” pungkasnya. (c6/dry/luq)

Sumber https://www.jawapos.com/radarmadura/archive/read/2016/11/10/5324/utm-kupas-pariwisata-dalam-bingkai-psikologi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *